DELISERDANG – Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan menghadirkan berbagai kemudahan bagi siswa. Namun, di balik manfaat tersebut, penggunaan AI juga perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan keyakinan terhadap kemampuan akademik diri sendiri. Berangkat dari kondisi tersebut, Dosen Program Studi Psikologi Institut Kesehatan Helvetia menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk "Psikoedukasi Digital Literasi dan Academic Self-Efficacy pada Siswa SMP Negeri 1 Patumbak" di SMP Negeri 1 Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Selasa (26/5/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi digital sekaligus memperkuat academic self-efficacy, yaitu keyakinan siswa terhadap kemampuannya dalam belajar dan menyelesaikan tugas. Melalui kegiatan ini, siswa didorong untuk memanfaatkan AI sebagai pendukung pembelajaran tanpa mengurangi kemandirian, kreativitas, maupun kemampuan berpikir kritis.
Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, permainan edukatif (ice breaking), refleksi diri, serta pre-test dan post-test. Peserta memperoleh pemahaman mengenai manfaat dan risiko penggunaan AI, etika pemanfaatan teknologi, serta pentingnya membangun kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan akademik.
Baca Juga: Bupati Dorong Sinergi Rumah Sakit Swasta Dan Pemerintah Tingkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat Ella Adhysti, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa AI seharusnya menjadi alat yang membantu proses belajar, bukan menggantikan kemampuan berpikir siswa. "Artificial Intelligence merupakan teknologi yang dapat mendukung proses pembelajaran apabila digunakan secara tepat. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana siswa tetap memiliki keyakinan terhadap kemampuan akademiknya sendiri. AI harus menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir, sehingga siswa tetap percaya diri, berani mencoba, dan mampu menyelesaikan tugas melalui usaha mereka sendiri," ujar Ella dalam keterangannya di Medan, Senin (8/6/2026).
Menurut Ella, siswa dengan academic self-efficacy yang baik cenderung lebih percaya diri, memiliki motivasi belajar yang tinggi, dan tidak mudah bergantung pada jawaban instan dari teknologi. Karena itu, penguatan literasi digital harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter belajar yang mandiri, bertanggung jawab, dan berintegritas.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa terlihat antusias mengikuti diskusi dan berbagi pengalaman menggunakan AI dalam menyelesaikan tugas sekolah. Melalui berbagai aktivitas tersebut, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh usaha, ketekunan, dan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan oleh Program Studi Psikologi Institut Kesehatan Helvetia. Melalui pengabdian ini, diharapkan siswa memiliki literasi digital yang baik sekaligus academic self-efficacy yang kuat sehingga mampu memanfaatkan AI secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab dalam mendukung proses pembelajaran.
Baca Juga: BTN Indonesia Fashion Week 2026 Resmi Dibuka, Karya Desainer Deliserdang Tampil di Panggung Nasional