Satu Pekan Mencekam di Aceh Tamiang: Gelap Gulita, Penjarahan, dan Bau Bangkai Menyengat “Seperti Kota Zombie”

Administrator - Jumat, 05 Desember 2025 09:45 WIB
Tim

Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah setelah dihantam banjir bandang dan longsor pada Rabu (26/11). Sudah sembilan hari berlalu, namun tak satu pun bantuan datang. Warga hidup tanpa air bersih, listrik, bahkan jaringan komunikasi. Semua akses terputus.

Warga Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, menyebut kondisi wilayah mereka kini seperti "kota zombie". Selain kondisi yang porak-poranda, aroma bangkai hewan dan kemungkinan mayat manusia tercium di sepanjang jalan.

Di sisi jalan, ranting-ranting pohon berserakan bercampur lumpur dan barang-barang milik warga yang hancur diterjang banjir. Arif menyaksikan sendiri bangkai hewan ternak seperti sapi dan kambing milik warga yang mati dan dibiarkan terkapar.

Baca Juga: Presiden Prabowo Perintahkan Pengiriman Bantuan Cepat ke 3 Provinsi Terdampak Bencana di Sumatra "Bau bangkai menyengat kali. Mungkin ada mayat manusia juga di balik reruntuhan, cuma tak kelihatan, tapi bau sekali," ujar salah seorang warga.

Menurut neret, warga sudah tidak lagi memikirkan soal mayat. Mereka lebih fokus bertahan hidup. "Orang-orang berburu makanan dan air. Saya lihat wajah-wajah penuh lumpur, bingung semua kita di jalanan," katanya.

Kota Mati di Malam Hari

Setiap malam, Aceh Tamiang berubah menjadi kota mati. Gelap gulita tanpa satu pun cahaya. Tak ada warga yang berani keluar rumah. Namun ketika matahari muncul, mereka berhamburan ke jalan mencari apapun yang bisa menyelamatkan hidup mereka.

Baca Juga: Gempa Bumi 6,3 SR di 63 Km Barat Laut Sinabang, Aceh Arif mengatakan, "Kami enggak tahu mau ngapain, cuma berharap ada makanan."

Sejak banjir terjadi, tidak terlihat satu pun petugas dari pemerintah daerah datang membantu—baik dari polisi, damkar, SAR, maupun BPBD. Situasi semakin tak menentu.

Penjarahan di Mana-Mana

Pada Minggu (30/11), Arif menyaksikan sejumlah toko swalayan dan grosir dijarah warga. Puluhan orang memaksa masuk mengambil persediaan makanan.

"Penjarahan di mana-mana," katanya.

Padahal sehari sebelumnya, warga masih berusaha membeli kebutuhan pokok. Sembako yang sudah dipaketkan seharga Rp80.000 masih bisa dibeli.

"Tapi besoknya orang sudah tidak mau beli lagi. Mereka ambil saja, mungkin karena harganya sudah tak masuk akal. Beras 10 kilogram sampai Rp250.000," ujar Arif.

Akses Rusak Parah

Seisi kota sekarang tampak seperti terperangkap. Listrik mati total, air bersih tidak ada, telekomunikasi lumpuh. Hampir semua jalan rusak dan dipenuhi lumpur setebal 50 sentimeter.

Di beberapa sudut jalan, air sisa banjir masih menggenang. Banyak kendaraan roda empat terbalik atau tercebur ke parit. Rumah warga pun rusak parah: ada yang ambruk, tembok miring, pagar jebol, atap bolong, hingga jendela dan pintu tercabut.

Aceh Tamiang kini benar-benar tenggelam dalam suasana duka, ketidakpastian, dan keputusasaan.(BBC)

Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Presiden RI Prabowo Tinjau Kesiapan Huntara Aceh Tamiang, Hutama Karya Berkontribusi Untuk Warga Terdampak Bencana

Nasional

RELAWAN SEKAWAN LIMA PEDULI BENCANA SALURKAN BANTUAN KE ACEH TAMIANG

Nasional

Prabowo Kembali Tengok Aceh, Pastikan Distribusi Bantuan serta Percepatan Penanganan di Wilayah Terdampak

Nasional

Presiden Prabowo Perintahkan Pengiriman Bantuan Cepat ke 3 Provinsi Terdampak Bencana di Sumatra

Nasional

Gempa Bumi 6,3 SR di 63 Km Barat Laut Sinabang, Aceh