Siap Siap harga BBM akan naik Jika Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan APBN

Administrator - Selasa, 10 Maret 2026 07:27 WIB

JAKARTA – Pemerintah membuka peluang melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi apabila lonjakan harga minyak dunia terus berlanjut dan mulai memberi tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kenaikan harga energi global dinilai dapat memperlebar defisit fiskal jika tidak diikuti dengan langkah kebijakan yang tepat dari pemerintah.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan pemerintah telah melakukan berbagai simulasi terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak mentah dunia. Dari perhitungan tersebut, jika harga minyak rata-rata mencapai sekitar 92 dolar Amerika Serikat per barel, defisit anggaran berpotensi meningkat cukup signifikan.

Baca Juga: Tanker Tak Bisa Bersandar sebabkan BBM di Sumut Langka, Ini Penjelasan Gubernur Menurutnya, apabila pemerintah tidak mengambil langkah apa pun dalam situasi tersebut, maka defisit anggaran diperkirakan bisa melebar hingga kisaran 3,6 hingga 3,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Hal itu disampaikan Purbaya saat acara buka puasa bersama wartawan di Kementerian Keuangan, Jumat (6/3/2026).

Meski demikian, pemerintah masih memiliki sejumlah opsi untuk menjaga defisit tetap berada di bawah ambang batas 3 persen dari PDB. Salah satu langkah yang tengah dipertimbangkan adalah melakukan penyesuaian pada belanja negara.

Namun apabila tekanan terhadap APBN semakin berat, pemerintah juga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pembagian beban dengan masyarakat melalui penyesuaian harga BBM bersubsidi.

Purbaya menjelaskan, langkah tersebut akan menjadi pilihan terakhir apabila kondisi fiskal tidak lagi mampu menanggung seluruh beban subsidi energi.

Selain opsi penyesuaian harga BBM, pemerintah juga menyiapkan strategi realokasi anggaran. Program-program yang dinilai belum mendesak dapat ditunda atau dialihkan pelaksanaannya ke tahun berikutnya demi menjaga stabilitas fiskal negara.

Ia menegaskan pemerintah tetap memprioritaskan belanja yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Sementara pengeluaran yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan mendesak berpotensi ditunda, termasuk pengadaan barang atau proyek tertentu.

Lonjakan harga minyak dunia sendiri dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Salah satu faktor pemicunya adalah penghentian operasional kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco setelah serangan drone yang terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Iran. (Red)

Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Berita

Tanker Tak Bisa Bersandar sebabkan BBM di Sumut Langka, Ini Penjelasan Gubernur